Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Profesi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 07 Maret 2012

Antara Profesi dan dedikasi

Kadangkala kita sebagai warga negara biasa yang tidak mempunyai jabatan dan pemangku kepentingan di sebuah lembaga instansi yang bonafide, atau katakanlah tidak menjadi bagian dalam sebuah struktur pemerintahan di negeri ini seringkali mengungkapkan nada-nada minor tentang pegawai negara atau lazimnya yang kita sebut sebagai pegawai negeri sipil. Kita seringkali iri begitu melihat hal-hal yang menyangkut kesejahteraan untuk para PNS tersebut. Kerja sudah enak, berangkat bisa jam berapa saja, mau masuk atau tidak juga tidak masalah, sampai kantor tidak tahu apa yang mau di kerjain sehingga seringnya hanya duduk ngobrol, merokok bas-bus, minum teh dan makan minum d warung sampai lepas tengah hari dan setelah itu bisa pulang dan menikmati keharmonisan di keluarga atau meneruskan berbelanja d mall.

Kalau kita orang awan atau orang Non-PNS menderet ke-enakan manjadi PNS, akan banyak sekali daftar yang kita temukan. Namun apabila sebaliknya kita mendaftari ke-susahannya menjadi PNS, sedikit sekali yang kita temukan, atau bahkan tidak menemukan sama sekali. Karena catatan-catatan kita seringkali masih d susupi dengan iri dengki dan ingin mencari keburukan orang. Hmm..kata orang, sudah manusiawi.

Namun, cerita dari seorang sahabat di negeri seberang ternyata malah berbanding terbalik dari analisa umum masyarakat tentang PNS. Dia sosok seorang pekerja yang brillian, cerdas dan berdedikasi. Dia pandai melakukan analisa perencanaan, pintar dalam statistika, memiliki pemahaman akuntansi dan perbankan yang bagus, dan juga mempunyai keahlian sebagai seorang supervisor yang handal. Namun yang lebih hebat dari itu semua adalah integritas moralnya, kebersihan hatinya dan kejujuran perilakunya. Singkat kata dia adalah seorang pekerja profesional yang cerdas, bertakwa dan berakhlak mulia, persis seperti harapan Bangsa Indonesia kepada para pemuda dan pemudinya.
Segala keunggulannya tersebut membuat dia jadi center of excellent d kantornya, namun keunggulannya itulah yang membuat dia menjadi "celaka". Ketika dia mampu menyelesaikan segala tugas yang di embankan kepadanya dengan gilang gemilang, maka lambat laun segala tugas dengan seenaknya di bebankan kepada dia. Apa saja yang berbau tugas, langsung dialah yang jadi sasaran tembaknya untuk mengerjakan. Sahabat saya itu sudah mencapai tataran "trust" alias dapat di percaya. Sehingga apapun yang dia kerjakan, pasti akan mendapatkan pengakuan dari atasannya. Sehingga tidak ada yang salah ketika atasannya mempercayakan tugas-tugas penting kepada dia. Sekali dua kali dia menikmati pekerjaan itu. Namun ketika hal tersebut berulang kali, berminggu-minggu, bulan berganti, tahun berubah namun juga tidak ada perbedaan, dia merasa tugasnya itu mencekik leher. Ketika sudah hampir mencapai puncak beban kerja dia menjadi drop dan ternyata apa yang dia kerjakan ternyata malah menyusahkan dirinya.