Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Humaniora. Tampilkan semua postingan

Kamis, 05 April 2012

Metamorfosa Blog : Sebuah Pilihan Konsep

Ketika kita hidup tentu akan selalu di hadapkan oleh sebuah pilihan-pilhan. Terkadang pilihan tersebut berat untuk diputuskan, karena penuh dengan pertimbangan argumentasi yang latar belakangnya bisa bermacam dan tentu beda antara satu dengan yang lainnya. Intinya bila kita ingin terus hidup, ya harus dapat menentukan pilihan-pilihan yang mudah-mudahan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.
Begitupun dengan blog ini. Ketika pertama saya membuat blog, mungkin karena iseng saja ataupun juga karena latah atau ikut-ikutan trend mode saja. Dengan awalnya membuat konsep di dalam blog ini merupakan blog gado-gado yang berisi bermacam-macam informasi-informasi atau apapun saja yang layak “di jual” di Internet. Terkadang banyak posting yang tidak konsisten, namun motivasinya adalah hanya sebatas menaikkan rank blog saja. Sehingga terdapat beberapa postingan yang terkesan hanya untuk memenuhi blog saja.

Minggu, 18 Maret 2012

Degradasi Fungsi Mulut dan Transformasi Komunikasi


Kadang bicara dengan benda mati dan menganggapnya hidup lebih mengasyikkan...Mungkin karena mereka lebih patuh dan minim dusta.! #Absurd.


Berbicara, berdiskusi ataupun berinteraksi terkadang lebih menyenangkan dengan benda yang jelas-jelas tidak punya mulut. Bukan berarti saya mengecam karunia mulut yang di berikan Tuhan, atau tidak mensyukuriNya. Pada saat moment atau situasi tertentu, kita seringkali menjumpai hal-hal merepotkan yang bersinggungan dengan mulut. Mulut terkadang mendendangkan lagu-lagu manis, janji manis dan berbagai ungkapan tentang keindahan namun mulut juga seringkali membuat kita patah hati dengan memberikan kebohongan, komentar kasar, ungkapan-ungkapan sinis dan menyesakkan.

Mulut dan lidah merupakan suatu paket tidak terpisahkan dari diri kita dalam berkomunikasi dengan makhluk lain sejenis. Dalam artian mulut dan lidah yang menjadi medium utama kita untuk menyampaikan gagasan, ide, pandangan, informasi dan apa saja yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Mulutpun menjadi senjata utama kita untuk mempengaruhi orang, meskipun ada medium lain seperti misalnya melalui tulisan.

Namun pola komunikasi yang di bangun oleh mulut ini, ternyata tidak terlepas dari element-element yang kita bangun dalam diri kita. Segala hal yang menyangkut ide dan pandangan kita ternyata tidak cukup bila di akomodasi hanya dengan sebuah mulut saja. Maksud saya, mulut dalam muatan penyampaiannya jelas di pengaruhi tidak hanya sebatas kharisma anda, kewibawaan anda atau  informasi yang anda miliki namun juga misalnya apakah posisi anda di lingkungan sosial, posisi jabatan anda di kantor, ketenaran anda di ruang publik, seberapa sering anda masuk TV, intervensi sosial anda atau apakah anda dekat pak pejabat anu atau bu  pejabat itu, dan masih banyak unsur yang lain. Gamblangnya adalah apabila anda tidak punya status sosial penting sekurang-kurangnya menduduki jabatan dalam struktur birokrasi, atau tidak punya uang untuk membayar orang lain untuk mendengarkan ceramah anda, maka hampir d pastikan bahwa mulut anda tidak akan berfungsi maksimal dan hanya menjadi gemeramangan saja.

Hal semacam itu juga tidak hanya dalam lingkup pergaulan yang besar dan luas yang berskala nasional, namun juga merambah sampai ke lingkup pergaulan individu kita. Kita dididik oleh suatu budaya dimana kita hanya sanggup mendengarkan “orang penting” saja, namun tidak pernah terbiasa untuk mendengar “orang biasa” berbicara baru kita nilai ucapannya baik atau tidak, pemikirannya bagus atau tidak. Kita sudah menganggap bahwa mulut para “orang penting” itu segala-galanya benar dan tidak ada yang berani membantah. Karena “orang penting” itulah penentu akses kebutuhan kita baik dalam bidang ekonomi maupun politik . Disanalah terletak nasib masa depan kita pribadi sehingga kita tidak kuasa untuk berbeda pandangan. Kalau anda di luar struktur itu, maka anda menjadi antagonis atau setidaknya oposisi yang nasibnya anda tentukan sendiri. Kalau mulut anda lebih keras suaranya dari kompetitor anda maka anda akan di dengarkan, namun bila anda tidak mempunyai apa-apa, silahkan anda mencari dana santunan untuk menjamin kelangsungan hidup anda.

Rabu, 07 Maret 2012

Konsistensi : Sebuah formulasi masa depan


Konsisten itu muatan ketetapan hati

Prinsip hidup yang menjaga kita

Kalau kita berbicara tentang hal konsistensi di semua aspek kehidupan kita, jawaban umum yang sering kita terima adalah berbagai keluhan, nada-nada menggeremang, suara-suara apatis dan sedikit nyinyir. Konsistensi dijadikan bahan wacana, bahan keilmiahan di ruang-ruang simposium, materi dalam presentasi para pakar psikologi bahkan muncul dalam nasihat kuno orang tua dalam menasihati anak-anaknya sebagai salah satu landasan awal menuju kesuksesan masa depan meskipun itu hanya terbatas dalam rumbaian kata-kata bijak saja. Meskipun implementasi dalam kehidupan dipastikan seringkali kita mengalami kegagalan menerjemahkannya dalam hidup kita. Apa makna, inti, metoda dan arti dari konsistensi. Para pakar psikologi, para pengembang dan peneliti tingkah laku manusia, staff HRD, Kyai, Pendeta, guru-guru di jaman modern ini dengan gampang akan memberikan definisi yang gamblang kepada anda. Atau bahkan anda tidak pernah butuh analisa dan keterangan dari mereka, karena anda sendiri sebenarnya mengetahui apa itu arti konsistensi. Namun, kita ketahui bersama, sungguh bagai menegakkan benang basah dalam menerapkan hal ini dalam diri kita. Meskipun kesulitan itu tidak sama dan searti dengan tidak mungkin.

Manusia mempunyai kecenderungan psikologis dari SonoNya yang memang sudah menjadi naluri untuk selalu bergerak dinamis. Dinamis dapat diartikan dengan dengan suatu gerak perubahan untuk menyesuaikan dengan keadaan dan kondisi sekitar. Hal tersebutlah yang menjadikan manusia dari zaman purba sampai jaman reformasi infomasi yang gegap gempita ini untuk selalu bertahan dari keadaan dan tekanan yang dihadapinya untuk menciptakan penemuan-penemuan dan perubahan-perubahan dalam hidup manusia itu sendiri. Perubahan itu bisa dalam cara perilaku manusia yang salah satu faktornya adalah di awali terlebih dahulu dengan perubahan-perubahan gaya hidup yang terkait dengan perubahan teknologi pendukung dalam kemudahan hidup manusia.

Antara Profesi dan dedikasi

Kadangkala kita sebagai warga negara biasa yang tidak mempunyai jabatan dan pemangku kepentingan di sebuah lembaga instansi yang bonafide, atau katakanlah tidak menjadi bagian dalam sebuah struktur pemerintahan di negeri ini seringkali mengungkapkan nada-nada minor tentang pegawai negara atau lazimnya yang kita sebut sebagai pegawai negeri sipil. Kita seringkali iri begitu melihat hal-hal yang menyangkut kesejahteraan untuk para PNS tersebut. Kerja sudah enak, berangkat bisa jam berapa saja, mau masuk atau tidak juga tidak masalah, sampai kantor tidak tahu apa yang mau di kerjain sehingga seringnya hanya duduk ngobrol, merokok bas-bus, minum teh dan makan minum d warung sampai lepas tengah hari dan setelah itu bisa pulang dan menikmati keharmonisan di keluarga atau meneruskan berbelanja d mall.

Kalau kita orang awan atau orang Non-PNS menderet ke-enakan manjadi PNS, akan banyak sekali daftar yang kita temukan. Namun apabila sebaliknya kita mendaftari ke-susahannya menjadi PNS, sedikit sekali yang kita temukan, atau bahkan tidak menemukan sama sekali. Karena catatan-catatan kita seringkali masih d susupi dengan iri dengki dan ingin mencari keburukan orang. Hmm..kata orang, sudah manusiawi.

Namun, cerita dari seorang sahabat di negeri seberang ternyata malah berbanding terbalik dari analisa umum masyarakat tentang PNS. Dia sosok seorang pekerja yang brillian, cerdas dan berdedikasi. Dia pandai melakukan analisa perencanaan, pintar dalam statistika, memiliki pemahaman akuntansi dan perbankan yang bagus, dan juga mempunyai keahlian sebagai seorang supervisor yang handal. Namun yang lebih hebat dari itu semua adalah integritas moralnya, kebersihan hatinya dan kejujuran perilakunya. Singkat kata dia adalah seorang pekerja profesional yang cerdas, bertakwa dan berakhlak mulia, persis seperti harapan Bangsa Indonesia kepada para pemuda dan pemudinya.
Segala keunggulannya tersebut membuat dia jadi center of excellent d kantornya, namun keunggulannya itulah yang membuat dia menjadi "celaka". Ketika dia mampu menyelesaikan segala tugas yang di embankan kepadanya dengan gilang gemilang, maka lambat laun segala tugas dengan seenaknya di bebankan kepada dia. Apa saja yang berbau tugas, langsung dialah yang jadi sasaran tembaknya untuk mengerjakan. Sahabat saya itu sudah mencapai tataran "trust" alias dapat di percaya. Sehingga apapun yang dia kerjakan, pasti akan mendapatkan pengakuan dari atasannya. Sehingga tidak ada yang salah ketika atasannya mempercayakan tugas-tugas penting kepada dia. Sekali dua kali dia menikmati pekerjaan itu. Namun ketika hal tersebut berulang kali, berminggu-minggu, bulan berganti, tahun berubah namun juga tidak ada perbedaan, dia merasa tugasnya itu mencekik leher. Ketika sudah hampir mencapai puncak beban kerja dia menjadi drop dan ternyata apa yang dia kerjakan ternyata malah menyusahkan dirinya.

Senin, 05 Maret 2012

BUDAYA LEBAY, LEBAY YANG MEMBUDAYA


 
Idiom lebay, entah dari muatan psikologis apa asal-usul kata tersebut muncul dan menjadi trending istilah di kalangan anak muda. Segala sesuatu yang di anggap kampungan, ketinggalan jaman, ndeso, norak atau apapun saja akan segera mendapat stempel lebay. Dari mode pakaian, gaya hidup, pemikiran, ungkapan kata, hasil pemikiran, sampai gaya bicara. Anda jangan sampai salah ucap, karena tuduhan keji itu bisa-bisa akan beralamat juga kepada Anda. Dan tulisan ini pun jika di pandang dengan perspektif seperti itu mengandung elemen lebay juga.

Tapi tunggu dulu, lebay itu sebenernya mahluk apa. Dengan kacamata model apa kita memandangnya secara objektif. Sepanjang yang kita ketahui, lebay secara harfiah merupakan plesetan kata dari lebih, meskipun masih bisa di perdebatkan darimana asal-usul kata ini dan faktor apa-apa saja yang melatarbelakangi munculnya kata tersebut. Sedangkan bagi orang yang mempunyai indikasi lebay, dinamakan alay. Lebay menjadi olok-olokan yang secara umum disepakati bersama-sama untuk menunjukkan kenorakannya. Norak karena berbeda dengan kalangan umum.

Yang jadi permasalahannya adalah legitimasi dari siapakah yang bisa mencap seseorang dan tindakannya itu lebay atau tidak.

Minggu, 04 Maret 2012

Bangun Pagi dan Sebuah Kebiasaan


Saya termasuk dari banyak orang yang sulit untuk bangun pagi. Entah kenapa, saya selalu malas bila bangun cepat-cepat di pagi hari. Saya selalu bangun ketika memang sudah mepet waktunya untuk berangkat bekerja. Ketika masih dalam buaian mimpi di atas kasur, meskipun Blackberry sudah di setel alarm yang menurut saya masih pagi (karena jam pagi setiap orang tentu berbeda-beda), selalu timbul rasa enggan untuk dapat beranjak bangun dan mulai aktivitas. Dan seringkali selalu niat untuk bangun pagi selalu kalah dengan hasrat tidur kembali.

Mungkin juga sebuah pembenaran subjektif, kalau saya selalu bangun siang di karenakan hampir setiap malam begadang sampai larut, yang jadinya waktu tidur menjadi terdiskon besar-besaran. Bila standart jam tidur bagi orang dewasa adalah 6-8 Jam, maka dengan kebiasaan “melek malam” itu membuat waktu tidur saya menjadi hanya 3-4 Jam saja.  Waktu tidur yang di rasa kurang dari standart normal itu menyebabkan aktivitas di siang hari menjadi tidak maksimal.