Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Kamis, 24 Mei 2012

Mengintip Kelahiran PNPM Pusaka: The Next Generation of PNPM Mandiri


Pelaksanaan PNPM Mandiri selama sejak tahun 2007, di nilai cukup positif dalam menanggulangi kemiskinan yang ada di Indonesia. Melalui pendekatan pemberdayaan masyarakat yang mengedepankan prinsip-prinsip musyawarah mufakat, PNPM mampu memberikan ruang pembelajaran dalam pengambilan keputusan yang demokratis. PNPM sendiri di rencanakan akan selesai pada tahun 2014. PNPM Sendiri seperti yang kita terdiri dari berbagai macam program seperti PNPM Mandiri Perdesaan, PNPM Perkotaan / Program Pegembangan Kecamatan Perkotaan (P2KP), PNPM Generasi, PNPM Paska Bencana, PNPM Paska Krisis, PNPM Integrasi, PNPM PISEW, PNPM Pariwisata dan lain sebagainya.
Timbul pertannyaan dari kita, lantas akan ada program apa sebagai pengembang dan penerus dari PNPM? Pihak depdagri menyatakan bahwa akan ada kelanjutan dari program PNPM yang system dan mekanismenya tidak terlampau jauh berbeda dengan PNPM. Meski belum di putuskan apakah masih menggunakan nama PNPM kembali ataukah ganti baju dengan nama yang lain.
Jawaban atas pertanyaan itu sedikit terungkap, saat saya membaca status Facebook dari Deputi Kemenkokesra, Sujana Royat yang menyatakan bahwa akan lahir generasi baru dari PNPM yaitu PNPM Pusaka.
Menurut beliau, PNPM Pusaka diharapkan dapat mendorong kelompok-kelompok masyarakat peminat kebudayaan lokal untuk mencintai dan melestarikan budaya, adat istiadat, kuliner, seni dan tata krama budaya lokal dan menerapkan dalam kehidupannya menjadi lebih berbudaya (culturally vibrant), dan akhirnya bila ini bisa dilakukan di semua tempat maka bangsa ini akan menjadi bangsa yang bermartabat kembali, bukan pengejar materi dan kekuasan dan sering di adu domba dan dimanfaatkan oleh berbagai kelompok kepentingan.
PNPM Pusaka rencananya akan di luncurkan serempak di berbagai kota bulan Agustus setelah Hari Peringatan Proklamasi Kemerdakaan Indonesia untuk menjadi gerakan nasional untuk mencintai budaya lokal. Aspek yang di sentuh dalam PNPM Pusaka adalah dimensi ketiga dari kemiskinan yaitu kemiskinan budaya, akhlak dan tata krama. Setelah sebelumnya dimensi kemiskinan harta dan kemiskinan ilmu, yang telah di sentuh melalui PNPM Mandiri.
Mungkin akan saya kutip status Facebook Sujana Royat yang di tulis pada awal bulan Mei 2012.

Jumat, 06 April 2012

Sebagai salah seorang pelaku pemberdayaan saya banyak menemui bahwa peran-peran strategis di Desa tidak berlangsung secara optimal seperti yang di amanatkan oleh program. Bukan berarti semua Desa pelakunya tidak optimal, namun dari kacamata pengalaman saya, hampir rata-rata pelaku di Desa terkadang terpusat hanya kepada orang-orang itu saja. Meskipun dalam PNPM, telah terbentuk pelaku-pelaku yang di syahkan pada saat Musyawarah Desa (MD), namun kualitas yang di harapkan belum dapat dikataka menggembirakan.
Salah satu peran pelaku yang selama ini di pandang penting namun terlupakan adalah KPMD. Kader Desa yang di bentuk PNPM yang mengemban tugas dalam hal memfasilitasi segala mediasi, konsultasi, evaluasi dan monitoring terhadap kegiatan PNPM di desa tersebut dengan supervise dari Fasilitator Kecamatan. Singkat kata KPMD adalah pengendali pelaksanaan program di Desa untuk memastikan bahwa kegiatan program berjalan sesuai dengan prinsip dan prosedur PNPM, meskipun dalam beberapa hal kewenangannya di batasi. Yaitu hanya dalam soal pencairan dana proyek PNPM saja tidak memerlukan KPMD. Karena pencariran dana mutlak di sertifikasi langsung oleh Fasilitator. Meskipun tidak di larang apabila KPMD memberikan rekomendasi kepada Fasiliator kaitanya dengan pelaksanaan kegiatan desa.

Menggugat Teori Kebutuhan Maslow

Awalnya dulu saya tidak begitu perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.

Dari latar belakang itulah maka saya sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow. Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.
Teori maslow merupakan salah satu penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku  manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau  tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik (Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena  apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs).

Kamis, 05 April 2012

Metamorfosa Blog : Sebuah Pilihan Konsep

Ketika kita hidup tentu akan selalu di hadapkan oleh sebuah pilihan-pilhan. Terkadang pilihan tersebut berat untuk diputuskan, karena penuh dengan pertimbangan argumentasi yang latar belakangnya bisa bermacam dan tentu beda antara satu dengan yang lainnya. Intinya bila kita ingin terus hidup, ya harus dapat menentukan pilihan-pilihan yang mudah-mudahan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.
Begitupun dengan blog ini. Ketika pertama saya membuat blog, mungkin karena iseng saja ataupun juga karena latah atau ikut-ikutan trend mode saja. Dengan awalnya membuat konsep di dalam blog ini merupakan blog gado-gado yang berisi bermacam-macam informasi-informasi atau apapun saja yang layak “di jual” di Internet. Terkadang banyak posting yang tidak konsisten, namun motivasinya adalah hanya sebatas menaikkan rank blog saja. Sehingga terdapat beberapa postingan yang terkesan hanya untuk memenuhi blog saja.

Selasa, 27 Maret 2012

PERANG MINYAK


Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR. Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan, menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas, lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang akan di pusatkan di depan gedung DPR.

Menyikapi hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya. Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam. Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi, sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti 1998.

Sabtu, 24 Maret 2012

Dahlan Iskan, Protokoler Kenegaraan dan Penghancuran Politik Pencitraan

Di headline News pagi tadi (20/3), media online ramai memberitakan kembali sepak terjang Menteri BUMN. Pak Menteri mencak-mencak di Pintu Tol Semanggi arah ke Slipi karena terjadi antrean panjang mobil yang akan masuk ke Pintu Tol. Padahal beliau sudah sering menginstruksikan kepada Jasa Marga, agar antrean dalam pintu tol maksimal adalah 5 mobil. Namun ketika pagi itu beliau ikut terjebak dalam antrean panjang 30 mobil, dan melihat ada dua pintu dari empat pintu yang tidak di fungsikan, beranglah Pak Menteri. Beliau keluar dari mobil dan masuk dalam loket yang tidak ada operatornya dan serta merta membuang kursi yang ada di dalamnya. “Tidak ada gunanya kursi ini,” Ujar beliau di kutip dari Humas Kementrian BUMN. Bahkan untuk menormalisasikan antrean panjang yang terjadi, beliau sempat menggratiskan kurang lebih 100 mobil. “Kalau Jasa Marga merasa rugi, suruh tagih ke saya,” katanya.
***
Kejadian tersebut menjadi catatan tambahan dari sepak terjangnya selama ini yang yang dianggap out of mainstream dari pelaku para pejabat publik di negara ini. Di tengah gelombang hipokrisi dan megalomania yang tinggi, Dahlan Iskan hadir dengan terobosan serta akselarasi yang mengundang perhatian khalayak. Beberapa kali beliau membuat keputusan dan tindakan yang tidak lazim dilakukan. Meskipun banyak yang memuji, namun tidak sedikit pula yang mencibir adanya pencitraan di balik semua itu.
Memang, kita selama ini telah di didik oleh suatu system kelembagaan Negara yang membuat kita merasa sudah sampai pada tingkat tidak percaya. Perilaku korup, kepentingan politis, kebijakan yang selalu jauh dari amanat rakyat membuat kita di serang dengan gelombang ketidakpercayaan, sinisme dan apatis terhadap segala kebaikan yang terjadi di negeri ini. Membuat kita tidak memiliki kepekaan dan daya analisa tentang apapun saja. Meminjam istilah Emha Ainun Nadjib, kita merupakan generasi kampong yang rentan terhadap segala informasi. Kita selalu gagal untuk menempatkan kuda-kuda pikiran dan sikap kita, sehingga ketika ada yang baik selalu kita anggap itu pencitraan dan yang buruk selalu kita kutuk sampai mampus. Dan lebih celakanya pernyataan seperti itu seringkalinya lahir dari like and dislike dan bukan lahir dari fakta, analisa dan realitas yang ada.

Minggu, 18 Maret 2012

Degradasi Fungsi Mulut dan Transformasi Komunikasi


Kadang bicara dengan benda mati dan menganggapnya hidup lebih mengasyikkan...Mungkin karena mereka lebih patuh dan minim dusta.! #Absurd.


Berbicara, berdiskusi ataupun berinteraksi terkadang lebih menyenangkan dengan benda yang jelas-jelas tidak punya mulut. Bukan berarti saya mengecam karunia mulut yang di berikan Tuhan, atau tidak mensyukuriNya. Pada saat moment atau situasi tertentu, kita seringkali menjumpai hal-hal merepotkan yang bersinggungan dengan mulut. Mulut terkadang mendendangkan lagu-lagu manis, janji manis dan berbagai ungkapan tentang keindahan namun mulut juga seringkali membuat kita patah hati dengan memberikan kebohongan, komentar kasar, ungkapan-ungkapan sinis dan menyesakkan.

Mulut dan lidah merupakan suatu paket tidak terpisahkan dari diri kita dalam berkomunikasi dengan makhluk lain sejenis. Dalam artian mulut dan lidah yang menjadi medium utama kita untuk menyampaikan gagasan, ide, pandangan, informasi dan apa saja yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Mulutpun menjadi senjata utama kita untuk mempengaruhi orang, meskipun ada medium lain seperti misalnya melalui tulisan.

Namun pola komunikasi yang di bangun oleh mulut ini, ternyata tidak terlepas dari element-element yang kita bangun dalam diri kita. Segala hal yang menyangkut ide dan pandangan kita ternyata tidak cukup bila di akomodasi hanya dengan sebuah mulut saja. Maksud saya, mulut dalam muatan penyampaiannya jelas di pengaruhi tidak hanya sebatas kharisma anda, kewibawaan anda atau  informasi yang anda miliki namun juga misalnya apakah posisi anda di lingkungan sosial, posisi jabatan anda di kantor, ketenaran anda di ruang publik, seberapa sering anda masuk TV, intervensi sosial anda atau apakah anda dekat pak pejabat anu atau bu  pejabat itu, dan masih banyak unsur yang lain. Gamblangnya adalah apabila anda tidak punya status sosial penting sekurang-kurangnya menduduki jabatan dalam struktur birokrasi, atau tidak punya uang untuk membayar orang lain untuk mendengarkan ceramah anda, maka hampir d pastikan bahwa mulut anda tidak akan berfungsi maksimal dan hanya menjadi gemeramangan saja.

Hal semacam itu juga tidak hanya dalam lingkup pergaulan yang besar dan luas yang berskala nasional, namun juga merambah sampai ke lingkup pergaulan individu kita. Kita dididik oleh suatu budaya dimana kita hanya sanggup mendengarkan “orang penting” saja, namun tidak pernah terbiasa untuk mendengar “orang biasa” berbicara baru kita nilai ucapannya baik atau tidak, pemikirannya bagus atau tidak. Kita sudah menganggap bahwa mulut para “orang penting” itu segala-galanya benar dan tidak ada yang berani membantah. Karena “orang penting” itulah penentu akses kebutuhan kita baik dalam bidang ekonomi maupun politik . Disanalah terletak nasib masa depan kita pribadi sehingga kita tidak kuasa untuk berbeda pandangan. Kalau anda di luar struktur itu, maka anda menjadi antagonis atau setidaknya oposisi yang nasibnya anda tentukan sendiri. Kalau mulut anda lebih keras suaranya dari kompetitor anda maka anda akan di dengarkan, namun bila anda tidak mempunyai apa-apa, silahkan anda mencari dana santunan untuk menjamin kelangsungan hidup anda.

Jumat, 16 Maret 2012

Pemberdayaan dan Proses Penyadaran


Kasus fraud yang menghentak program pemberdayaan di rasa menjadi sebuah tamparan keras. Sebuah harian nasional memberitakan bahwa total dana yang di selewengkan mencapai angka sebesar 220 Milyar Rupiah yang terakumulasi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Sebuah angka fantastis untuk ukuran sebuah program pemberdayaan yang di gadang-gadang sebagai program pemberdayaan terbaik dan tersukses di negeri ini. Itu angka dari data yang tercatat, yang di laporkan dan di temukan. Untuk kasus-kasus yang belum di ketahui atau di laporkan masih mungkin angkanya menjadi lebih besar.
Kasus tentang penilapan uang program oleh konsultan, birokrat, pelaku pelaksana dari tingkat desa sampai tingkat atas, uang siluman untuk meloloskan kegiatan proyek, pemotongan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab masih mendominasi dan mewarnai perjalanan program. Dan ini hampir secara merata terjadi di setiap lini. Meskipun tidak bisa di bandingkan dengan kasus korupsi raksasa di negeri ini, namun setidaknya ini sudah harus menjadi catatan merah sekaligus warning bagi kita untuk menyelamatkan uang rakyat yang telah diamanatkan untuk pembangunan.
Program pemberdayaan hadir di tengah stigma negative masyarakat akan pembangunannya. Berpuluh tahun masyarakat tidak pernah di ikutkan serta di libatkan dalam proses pembangunan desanya, sehingga lambat laun menggumpal kesadaran bahwa yang memiliki uang adalah Pak Kades, Camat, Bupati hingga Presiden. Rakyat merasa tidak punya hak apa-apa untuk ikut berpartisipasi. Karena toh berpartisipasi saja juga belum tentu ada hasilnya yang nyata, yang dapat di rasakan langsung oleh mereka. Seringkalinya yang mereka dapatkan adalah semacam hadiah, gula-gula permen asam manis pembangunan, yang kadangkala kurang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dan hasilnya masih terdapat kegiatan proyek pembangunan yang mangkrak dan tidak dapat digunakan secara optimal.
Rakyat juga masih terkesan menganggap segala program yang hadir di desa mereka adalah bantuan pemerintah. Proyek. Bukan atas dasar kesadaran bahwa itu hak mereka sebagai warga negara untuk juga ikut menikmati pembangunan yang adil dan merata. Yang dapat meningkatkan harkat dan kesejahteraan bersama. Imunitas cultural ini sungguh sangat mengkhawatirkan dan memprihatinkan. Dengan kosmologi pemikiran seperti itu, maka mayoritas masyarakat menjadi apatis dan cuek terhadap pembangunan. Mereka kadangkala tidak mau perduli, acuh, cuek dengan segala proses pembangunan di desanya. Karena menurut mereka memang membangun itu tugasnya pemerintah.

Sabtu, 10 Maret 2012

Dering SMS



H
andphone itu kembali berdering untuk kesekian kalinya. Sayup-sayup terdengar di telinga dengan suara khasnya yang menandakan bahwa ada pesan masuk di HPku. Aku masih sedikit tersadar dari lelap tidurku. Kukumpulkan tenaga, untuk mengusir kantuk. Dengan sedikit malas ku raih Handphone itu di atas meja, di sebelah komputer bututku. Kulihat ada empat panggilan tak terjawab dan satu SMS. Ku buka pesan tersebut.
Kok ga’ diangkat??!!Lagi apa????!!”
Ku jawab dengan singkat.
Maaf.....tadi lagi tidur...Semalaman belum tidur....Ada apa?”
Ku rebahkan tubuh ini lagi di ranjang kasur kamar kosku. Capek dan lelah tubuh ini, setelah tadi malam lembur bikin tugas analisa makroekonomika yang di deadline untuk harus selesai dan di kumpulkan pada jam 9 pagi tadi, sebagai tugas pra-syarat untuk mengikuti ujian akhir semester pada hari senin depan. Demi ujian itulah aku harus begadang tiap malam, agar tidak mendapat nilai E yang sudah di janjikan dosen kami jika sampai mahasiswanya tidak membuat tugas akhir. Itu artinya sangat jelas, apabila gagal, mengulang kembali lagi di semester tahun depan. Dan itu merupakan  konsekuensi yang mengerikan mengingat kami sudah mencapai akhir semester. Sebuah intimidasi terselubung aku pikir. Namun kami tak kuasa menolak apalagi membantah. Begitulah psikologi orang yang lemah daya tawarnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, namun hanya menggeremang dan mengutuki saja namun tidak bisa merubah apapun. Tidur. Istirahat kembali untuk nanti malam menyiapkan energi.
Belum sempat aku terlelap, aku di kagetkan kembali dengan suara telepon yang meraung-raung tepat di sebelah kupingku. Brengsek. Siapa lagi yang mengganggu tidur ini. Kulihat  nama yang muncul di layar handphone. Aku mendesah. Namun tetap kuangkat telepon itu.

-----------------------------------0000---------------------------------