Awalnya dulu saya tidak begitu
perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku
manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu
banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti
sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini
dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di
tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat
di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati
orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan
bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.
Dari latar belakang itulah maka saya
sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow.
Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki
teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas
pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga
benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.
Teori maslow merupakan salah satu
penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan
kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik
(Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang
bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang
sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi
keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan
kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah
terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan
rasa aman (Safety Needs).