Awalnya dulu saya tidak begitu
perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku
manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu
banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti
sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini
dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di
tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat
di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati
orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan
bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.
Dari latar belakang itulah maka saya
sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow.
Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki
teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas
pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga
benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.
Teori maslow merupakan salah satu
penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan
kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik
(Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang
bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan
dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang
sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi
keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan
kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah
terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan
rasa aman (Safety Needs).
Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak
(BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan
memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR.
Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang
di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di
yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga
kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan,
menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan
koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas,
lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang
sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di
Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang
akan di pusatkan di depan gedung DPR.
Menyikapi
hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu
dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun
menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para
pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya.
Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari
pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi
adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa
itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment
tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam.
Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya
lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi,
sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah
merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti
1998.
Kadang bicara dengan benda mati dan menganggapnya
hidup lebih mengasyikkan...Mungkin karena mereka lebih patuh dan minim dusta.!
#Absurd.
Berbicara, berdiskusi ataupun berinteraksi terkadang lebih menyenangkan dengan
benda yang jelas-jelas tidak punya mulut. Bukan berarti saya mengecam karunia
mulut yang di berikan Tuhan, atau tidak mensyukuriNya. Pada saat moment atau
situasi tertentu, kita seringkali menjumpai hal-hal merepotkan yang
bersinggungan dengan mulut. Mulut terkadang mendendangkan lagu-lagu manis,
janji manis dan berbagai ungkapan tentang keindahan namun mulut juga seringkali
membuat kita patah hati dengan memberikan kebohongan, komentar kasar,
ungkapan-ungkapan sinis dan menyesakkan.
Mulut dan lidah merupakan suatu paket tidak terpisahkan dari diri kita
dalam berkomunikasi dengan makhluk lain sejenis. Dalam artian mulut dan lidah
yang menjadi medium utama kita untuk menyampaikan gagasan, ide, pandangan,
informasi dan apa saja yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Mulutpun
menjadi senjata utama kita untuk mempengaruhi orang, meskipun ada medium lain
seperti misalnya melalui tulisan.
Namun pola komunikasi yang di bangun oleh mulut ini, ternyata tidak
terlepas dari element-element yang kita bangun dalam diri kita. Segala hal yang
menyangkut ide dan pandangan kita ternyata tidak cukup bila di akomodasi hanya
dengan sebuah mulut saja. Maksud saya, mulut dalam muatan penyampaiannya jelas
di pengaruhi tidak hanya sebatas kharisma anda, kewibawaan anda atauinformasi yang anda miliki namun juga
misalnya apakah posisi anda di lingkungan sosial, posisi jabatan anda di
kantor, ketenaran anda di ruang publik, seberapa sering anda masuk TV,
intervensi sosial anda atau apakah anda dekat pak pejabat anu atau bupejabat itu, dan masih banyak unsur yang
lain. Gamblangnya adalah apabila anda tidak punya status sosial penting
sekurang-kurangnya menduduki jabatan dalam struktur birokrasi, atau tidak punya
uang untuk membayar orang lain untuk mendengarkan ceramah anda, maka hampir d
pastikan bahwa mulut anda tidak akan berfungsi maksimal dan hanya menjadi
gemeramangan saja.
Hal semacam itu juga tidak hanya dalam lingkup pergaulan yang besar dan
luas yang berskala nasional, namun juga merambah sampai ke lingkup pergaulan
individu kita. Kita dididik oleh suatu budaya dimana kita hanya sanggup
mendengarkan “orang penting” saja, namun tidak pernah terbiasa untuk mendengar “orang
biasa” berbicara baru kita nilai ucapannya baik atau tidak, pemikirannya bagus
atau tidak. Kita sudah menganggap bahwa mulut para “orang penting” itu
segala-galanya benar dan tidak ada yang berani membantah. Karena “orang
penting” itulah penentu akses kebutuhan kita baik dalam bidang ekonomi maupun
politik . Disanalah terletak nasib masa depan kita pribadi sehingga kita tidak
kuasa untuk berbeda pandangan. Kalau anda di luar struktur itu, maka anda
menjadi antagonis atau setidaknya oposisi yang nasibnya anda tentukan sendiri.
Kalau mulut anda lebih keras suaranya dari kompetitor anda maka anda akan di
dengarkan, namun bila anda tidak mempunyai apa-apa, silahkan anda mencari dana
santunan untuk menjamin kelangsungan hidup anda.
Dari sebuah harian nasional, saya membaca sebuah artikel menarik terkait
dengan PNPM. Artikel itu ditulis oleh beliau bapak Zainin Ahmadi, anggota DPR
RI dari Fraksi PDI-Perjuangan. Dalam artikel tersebut beliau memberikan
usulan untuk meninjau ulang kegiatan PNPM. Tinjauan ulang itu berdasarkan 5
alasan yaitu a) penyelenggaraan program menabrak UU Nomor 13 Tahun 2011 tentang
Penanganan Fakir Miskin (UU-PFM), b) Dana triliunan rupiah PNPM-Mandiri tidak
murni dari anggaran pendapatan belanja Negara dan daerah, melainkan dari
pinjaman Bank Dunia, c) Program PNPM jauh dari makna pemberdayaan masyarakat, d)
Program PNPM-Mandiri tumpang tindih dengan proyek-proyek pembangunan lain
karena jelajah PNPM-Mandiri yang tiada batas, e) PNPM sangat politis (Republika, 7 Februari 2012).
Sebagai seorang penggiat serta
pelaku pemberdaya masyarakat yang berada di lapangan serta bersentuhan langsung
dengan akar rumput, saya merasa harus menyampaikan beberapa tanggapan sekadar
sebagai urun rembug, yang motivasinya pasti sama dengan niat baik dari beliaunya
bapak anggota dewanyaitu semata-mata
meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak ada motivasi yang terselubung.
Beliau mungkin merasa gelisah dengan keadaan PNPM, dan ingin agar pembangunan
berjalan sesuai mekanisme sehingga aspek manfaat yang diterima masyarakat dapat
maksimal.
PNPM lahir dilatarbelakangi
dengan adanya persoalan kemiskinan dan pengangguran yang menjadi masalah utama
di negeri ini. Kesenjangan pembangunan antar wilayah yang mencolok, ketimpangan
pendapatan yang cukup ekstrim serta buruknya kinerja pemerintahan eksekutif dan
legislatif memicu masalah sosial yang tinggi di Indonesia. Tidak dapat
dipungkiri, 75% total uang negera ini menggumpal di Jakarta dan sisanya di bagi
ke seluruh pelosok negeri. Jakarta menjadi menara gading emas yang menarik
masyarakat desa untuk datang dan ikut mengadu nasib. Jakarta menawarkan
segalanya. Jakarta memberikan mimpi-mimpi indah. Dantidak usah kaget jika arus urbanisasi tidak
pernah bisa dibendung apalagi di selesaikan pemerintah. Sedangkan bagi
daerah-daerah lain di luar Jakarta, apalagi yang lintas pulau dan jauh dari
ibukota, sering kita mendengar tentang minimnya infrastruktur dan sarana
prasarana yang di bangun.
Kasus fraud yang menghentak program
pemberdayaan di rasa menjadi sebuah tamparan keras. Sebuah
harian nasional memberitakan bahwa total dana yang di selewengkan
mencapai angka sebesar 220 Milyar Rupiah yang terakumulasi dari tahun 2007
sampai dengan tahun 2011. Sebuah angka fantastis untuk ukuran sebuah program
pemberdayaan yang di gadang-gadang sebagai program pemberdayaan terbaik dan
tersukses di negeri ini. Itu angka
dari data yang tercatat, yang di laporkan dan di temukan. Untuk kasus-kasus
yang belum di ketahui atau di laporkan masih mungkin angkanya menjadi lebih
besar.
Kasus tentang penilapan uang program oleh
konsultan, birokrat, pelaku pelaksana dari tingkat desa sampai tingkat atas,
uang siluman untuk meloloskan kegiatan proyek, pemotongan oleh oknum yang tidak
bertanggungjawab masih mendominasi dan mewarnai perjalanan program. Dan ini
hampir secara merata terjadi di setiap lini. Meskipun tidak bisa di bandingkan
dengan kasus korupsi raksasa di negeri ini, namun setidaknya ini sudah harus menjadi
catatan merah sekaligus warning bagi kita untuk menyelamatkan uang rakyat yang
telah diamanatkan untuk pembangunan.
Program pemberdayaan hadir di tengah stigma
negative masyarakat akan pembangunannya. Berpuluh tahun masyarakat tidak pernah
di ikutkan serta di libatkan dalam proses pembangunan desanya, sehingga lambat
laun menggumpal kesadaran bahwa yang memiliki uang adalah Pak Kades, Camat,
Bupati hingga Presiden. Rakyat merasa tidak punya hak apa-apa untuk ikut
berpartisipasi. Karena toh berpartisipasi saja juga belum tentu ada hasilnya
yang nyata, yang dapat di rasakan langsung oleh mereka. Seringkalinya yang
mereka dapatkan adalah semacam hadiah, gula-gula permen asam manis pembangunan,
yang kadangkala kurang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dan hasilnya
masih terdapat kegiatan proyek pembangunan yang mangkrak dan tidak dapat
digunakan secara optimal.
Jika anda datang bertamu ke rumah tetangga atau handai tolan, maka hal pertama yang anda lakukan pastilah memberi salam, mengetuk pintu dan menunggu si tuan rumah mempersilakan kita untuk masuk. Setelah di terima masuk, mestinya anda tidak langsung dan nyelonong ke dalam bilik privacy tuan rumah, namun duduk dan jagongan di tempat yang sudah di sediakan di ruang tamu. Itulah unggah-ungguh budaya secara universal di setiap negara dan komunitas masyarakat di belahan dunia manapun. Jangan anda datang bertamu di tempat orang dan langsung menuju ke-misalnya-ruang tidur atau ruang makan dan mengambil segala jenis makanan yang ada di dalam lemari es, kalau anda tidak ingin di kemplang si tuan rumah. Itu sudah menjadi tata krama yang telah disekati secara komprehensif antar lapisan masyarakat. Dalam masyarakat jawa biasa disebut budaya kulonuwun.
Rumah, adalah sebuah simbol yang merepresentasikan hasrat, keinginan dan kompleksitas masalah, baik psikologi, hukum, moral dan budaya. Anda menciptakan rumah pastilah di bagi-bagi dan tersekat-sekat antar dinding. Ini menunjukkan bahwa jiwa manusia memiliki beberapa sekat psikologis. Kapan dimana saatnya manusia butuh kesendirian, dimana saat kita butuh bersantai dan mengorol dengan sanak family kita. Rumah menyediakan akomodasinya dengan ruang-ruang yang sudah di desain khusus untuk jiwa kita.
Kemudian, dimana relasi dengan tema kali ini?
Manusia mempunyai kecenderungan dua wajah. Satu wajah yang ingin di tampakkan dan satu wajah yang ingin di sembunyikan. Ruang tamu, halaman, teras, taman merupakan simbol dari rumah untuk kita tampilkan dan kita tunjukan kepada orang lain. Untuk itu kita menambahi berbagai ornamen dan pajangan-pajangan agar lebih tampak segar dan hidup. Namun disisi lain kita juga mempunyai kamar tidur, ruang-ruang pribadi yang kemungkinan orang luar tidak dapat mengakses sampai ke dalam, karena hanya dikhususkan untuk konsumsi pribadi. Karena tidak semua dalam di dunia ini harus di tampilkan. Jika itu dilanggar, produknya adalah rasa malu karena hal yang seharusnya ditutupi ternyata telah di ketahui orang lain.
Budaya jawa dan bangsa Indonesia sejak dulu sangat terkenal dalam budaya malu dan menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh-nya. Tutur katanya halus dan mempunyai segmen tingkatan bahasa yang tidak di miliki oleh budaya lain di dunia. Anda ngobrol dengan Nenek anda jangan anda samakan ngobrol seperti di warung kopi bersama handai taulan. Ada tata cara budaya jawa yang mengatur hubungan itu. Tidak seperti bahasa inggris yang hanya bisa ngoko kepada siapapun. Baik itu kepada ibu, bapak, nenek, sodara, teman, adik, atau kepada siapapun. Budaya egaliter dan tanpa tedeng aling-aling membuat budaya mancanegara lebih tidak punya malu kepada siapapun. Mereka telanjang, bermain seks di tempat umum, konvoi hanya memakai BH dan celana dalam, menggunakan bikini dan aksesoris yang—bukan untuk menutupi—namun lebih sebgai penegasan penelanjangan, dalam budaya mereka itu sudah biasa dan janganlah anda heran dan terkaget-kaget.
Justru anda harus kaget jika terdapat orang yang di besarkan dalam kondisi dan lingkungan budaya rasa malu yang tinggi tiba-tiba menjadi lebih tidak punya malu. Kadar tingkat rasa malunya pun sudah mencapai tahap yang paling akut kalau tidak boleh di bilang bebal. Pertunjukan parade ekshibisionis pacaran di tempat umum, hamil di luar nikah, korupsi penggerogotan nilai dan materi yang seharusnya milik rakyat. Dan berbagai kelakuan yang tidak sepantasnya seperti --masalah keluarga-- dipertontonkan kepada publik, malah sekarang jadi komoditas industri infotainment yang sangat laris dan berbiaya sangat mahal. Seorang koruptor berjalan tegak dengan bangga sambil melambaikan tanganya dan tidak menunjukkan rasa bersalah setelah bebas dari penjara dan– misalnya kembali lagi sebagai dosen atau pekerja pemerintahan lain— masih saja tetap di hormati dan di junjung tinggi.