Tampilkan postingan dengan label Kolom esai. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kolom esai. Tampilkan semua postingan

Jumat, 06 April 2012

Menggugat Teori Kebutuhan Maslow

Awalnya dulu saya tidak begitu perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.

Dari latar belakang itulah maka saya sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow. Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.
Teori maslow merupakan salah satu penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku  manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau  tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik (Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena  apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs).

Selasa, 27 Maret 2012

PERANG MINYAK


Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR. Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan, menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas, lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang akan di pusatkan di depan gedung DPR.

Menyikapi hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya. Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam. Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi, sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti 1998.

Minggu, 18 Maret 2012

Degradasi Fungsi Mulut dan Transformasi Komunikasi


Kadang bicara dengan benda mati dan menganggapnya hidup lebih mengasyikkan...Mungkin karena mereka lebih patuh dan minim dusta.! #Absurd.


Berbicara, berdiskusi ataupun berinteraksi terkadang lebih menyenangkan dengan benda yang jelas-jelas tidak punya mulut. Bukan berarti saya mengecam karunia mulut yang di berikan Tuhan, atau tidak mensyukuriNya. Pada saat moment atau situasi tertentu, kita seringkali menjumpai hal-hal merepotkan yang bersinggungan dengan mulut. Mulut terkadang mendendangkan lagu-lagu manis, janji manis dan berbagai ungkapan tentang keindahan namun mulut juga seringkali membuat kita patah hati dengan memberikan kebohongan, komentar kasar, ungkapan-ungkapan sinis dan menyesakkan.

Mulut dan lidah merupakan suatu paket tidak terpisahkan dari diri kita dalam berkomunikasi dengan makhluk lain sejenis. Dalam artian mulut dan lidah yang menjadi medium utama kita untuk menyampaikan gagasan, ide, pandangan, informasi dan apa saja yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Mulutpun menjadi senjata utama kita untuk mempengaruhi orang, meskipun ada medium lain seperti misalnya melalui tulisan.

Namun pola komunikasi yang di bangun oleh mulut ini, ternyata tidak terlepas dari element-element yang kita bangun dalam diri kita. Segala hal yang menyangkut ide dan pandangan kita ternyata tidak cukup bila di akomodasi hanya dengan sebuah mulut saja. Maksud saya, mulut dalam muatan penyampaiannya jelas di pengaruhi tidak hanya sebatas kharisma anda, kewibawaan anda atau  informasi yang anda miliki namun juga misalnya apakah posisi anda di lingkungan sosial, posisi jabatan anda di kantor, ketenaran anda di ruang publik, seberapa sering anda masuk TV, intervensi sosial anda atau apakah anda dekat pak pejabat anu atau bu  pejabat itu, dan masih banyak unsur yang lain. Gamblangnya adalah apabila anda tidak punya status sosial penting sekurang-kurangnya menduduki jabatan dalam struktur birokrasi, atau tidak punya uang untuk membayar orang lain untuk mendengarkan ceramah anda, maka hampir d pastikan bahwa mulut anda tidak akan berfungsi maksimal dan hanya menjadi gemeramangan saja.

Hal semacam itu juga tidak hanya dalam lingkup pergaulan yang besar dan luas yang berskala nasional, namun juga merambah sampai ke lingkup pergaulan individu kita. Kita dididik oleh suatu budaya dimana kita hanya sanggup mendengarkan “orang penting” saja, namun tidak pernah terbiasa untuk mendengar “orang biasa” berbicara baru kita nilai ucapannya baik atau tidak, pemikirannya bagus atau tidak. Kita sudah menganggap bahwa mulut para “orang penting” itu segala-galanya benar dan tidak ada yang berani membantah. Karena “orang penting” itulah penentu akses kebutuhan kita baik dalam bidang ekonomi maupun politik . Disanalah terletak nasib masa depan kita pribadi sehingga kita tidak kuasa untuk berbeda pandangan. Kalau anda di luar struktur itu, maka anda menjadi antagonis atau setidaknya oposisi yang nasibnya anda tentukan sendiri. Kalau mulut anda lebih keras suaranya dari kompetitor anda maka anda akan di dengarkan, namun bila anda tidak mempunyai apa-apa, silahkan anda mencari dana santunan untuk menjamin kelangsungan hidup anda.

Minggu, 04 Maret 2012

TINJAU ULANG PNPM : SEBUAH TANGGAPAN


Dari sebuah harian nasional, saya membaca sebuah artikel menarik terkait dengan PNPM. Artikel itu ditulis oleh beliau bapak Zainin Ahmadi, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan. Dalam artikel tersebut beliau memberikan usulan untuk meninjau ulang kegiatan PNPM. Tinjauan ulang itu berdasarkan 5 alasan yaitu a) penyelenggaraan program menabrak UU Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin (UU-PFM), b) Dana triliunan rupiah PNPM-Mandiri tidak murni dari anggaran pendapatan belanja Negara dan daerah, melainkan dari pinjaman Bank Dunia, c) Program PNPM jauh dari makna pemberdayaan masyarakat, d) Program PNPM-Mandiri tumpang tindih dengan proyek-proyek pembangunan lain karena jelajah PNPM-Mandiri yang tiada batas, e) PNPM sangat politis (Republika, 7 Februari 2012).
Sebagai seorang penggiat serta pelaku pemberdaya masyarakat yang berada di lapangan serta bersentuhan langsung dengan akar rumput, saya merasa harus menyampaikan beberapa tanggapan sekadar sebagai urun rembug, yang motivasinya pasti sama dengan niat baik dari beliaunya bapak anggota dewan  yaitu semata-mata meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak ada motivasi yang terselubung. Beliau mungkin merasa gelisah dengan keadaan PNPM, dan ingin agar pembangunan berjalan sesuai mekanisme sehingga aspek manfaat yang diterima masyarakat dapat maksimal.

PNPM lahir dilatarbelakangi dengan adanya persoalan kemiskinan dan pengangguran yang menjadi masalah utama di negeri ini. Kesenjangan pembangunan antar wilayah yang mencolok, ketimpangan pendapatan yang cukup ekstrim serta buruknya kinerja pemerintahan eksekutif dan legislatif memicu masalah sosial yang tinggi di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, 75% total uang negera ini menggumpal di Jakarta dan sisanya di bagi ke seluruh pelosok negeri. Jakarta menjadi menara gading emas yang menarik masyarakat desa untuk datang dan ikut mengadu nasib. Jakarta menawarkan segalanya. Jakarta memberikan mimpi-mimpi indah. Dan  tidak usah kaget jika arus urbanisasi tidak pernah bisa dibendung apalagi di selesaikan pemerintah. Sedangkan bagi daerah-daerah lain di luar Jakarta, apalagi yang lintas pulau dan jauh dari ibukota, sering kita mendengar tentang minimnya infrastruktur dan sarana prasarana yang di bangun. 

Pemberdayaan dan Proses Penyadaran


Kasus fraud yang menghentak program pemberdayaan di rasa menjadi sebuah tamparan keras. Sebuah harian nasional memberitakan bahwa total dana yang di selewengkan mencapai angka sebesar 220 Milyar Rupiah yang terakumulasi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Sebuah angka fantastis untuk ukuran sebuah program pemberdayaan yang di gadang-gadang sebagai program pemberdayaan terbaik dan tersukses di negeri ini. Itu angka dari data yang tercatat, yang di laporkan dan di temukan. Untuk kasus-kasus yang belum di ketahui atau di laporkan masih mungkin angkanya menjadi lebih besar.
Kasus tentang penilapan uang program oleh konsultan, birokrat, pelaku pelaksana dari tingkat desa sampai tingkat atas, uang siluman untuk meloloskan kegiatan proyek, pemotongan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab masih mendominasi dan mewarnai perjalanan program. Dan ini hampir secara merata terjadi di setiap lini. Meskipun tidak bisa di bandingkan dengan kasus korupsi raksasa di negeri ini, namun setidaknya ini sudah harus menjadi catatan merah sekaligus warning bagi kita untuk menyelamatkan uang rakyat yang telah diamanatkan untuk pembangunan.
Program pemberdayaan hadir di tengah stigma negative masyarakat akan pembangunannya. Berpuluh tahun masyarakat tidak pernah di ikutkan serta di libatkan dalam proses pembangunan desanya, sehingga lambat laun menggumpal kesadaran bahwa yang memiliki uang adalah Pak Kades, Camat, Bupati hingga Presiden. Rakyat merasa tidak punya hak apa-apa untuk ikut berpartisipasi. Karena toh berpartisipasi saja juga belum tentu ada hasilnya yang nyata, yang dapat di rasakan langsung oleh mereka. Seringkalinya yang mereka dapatkan adalah semacam hadiah, gula-gula permen asam manis pembangunan, yang kadangkala kurang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dan hasilnya masih terdapat kegiatan proyek pembangunan yang mangkrak dan tidak dapat digunakan secara optimal.

Senin, 12 April 2010

Kembalikan Rasa Malu dan “Kemaluanku” !!


Jika anda datang bertamu ke rumah tetangga atau handai tolan, maka hal pertama yang anda lakukan pastilah memberi salam, mengetuk pintu dan menunggu si tuan rumah mempersilakan kita untuk masuk. Setelah di terima masuk, mestinya anda tidak langsung dan nyelonong ke dalam bilik privacy tuan rumah, namun duduk dan jagongan di tempat yang sudah di sediakan di ruang tamu. Itulah unggah-ungguh budaya secara universal di setiap negara dan komunitas masyarakat di belahan dunia manapun. Jangan anda datang bertamu di tempat orang dan langsung menuju ke-misalnya-ruang tidur atau ruang makan dan mengambil segala jenis makanan yang ada di dalam lemari es, kalau anda tidak ingin di kemplang si tuan rumah. Itu sudah menjadi tata krama yang telah disekati secara komprehensif antar lapisan masyarakat. Dalam masyarakat jawa biasa disebut budaya kulonuwun.
Rumah, adalah sebuah simbol yang merepresentasikan hasrat, keinginan dan kompleksitas masalah, baik psikologi, hukum, moral dan budaya. Anda menciptakan rumah pastilah di bagi-bagi dan tersekat-sekat antar dinding. Ini menunjukkan bahwa jiwa manusia memiliki beberapa sekat psikologis. Kapan dimana saatnya manusia butuh kesendirian, dimana saat kita butuh bersantai dan mengorol dengan sanak family kita. Rumah menyediakan akomodasinya dengan ruang-ruang yang sudah di desain khusus untuk jiwa kita.
Kemudian, dimana relasi dengan tema kali ini?
Manusia mempunyai kecenderungan dua wajah. Satu wajah yang ingin di tampakkan dan satu wajah yang ingin di sembunyikan. Ruang tamu, halaman, teras, taman merupakan simbol dari rumah untuk kita tampilkan dan kita tunjukan kepada orang lain. Untuk itu kita menambahi berbagai ornamen dan pajangan-pajangan agar lebih tampak segar dan hidup. Namun disisi lain kita juga mempunyai kamar tidur, ruang-ruang pribadi yang kemungkinan orang luar tidak dapat mengakses sampai ke dalam, karena hanya dikhususkan untuk konsumsi pribadi. Karena tidak semua dalam di dunia ini harus di tampilkan. Jika itu dilanggar, produknya adalah rasa malu karena hal yang seharusnya ditutupi ternyata telah di ketahui orang lain.
Budaya jawa dan bangsa Indonesia sejak dulu sangat terkenal dalam budaya malu dan menjunjung tinggi budaya unggah-ungguh-nya. Tutur katanya halus dan mempunyai segmen tingkatan bahasa yang tidak di miliki oleh budaya lain di dunia. Anda ngobrol dengan Nenek anda jangan anda samakan ngobrol seperti di warung kopi bersama handai taulan. Ada tata cara budaya jawa yang mengatur hubungan itu. Tidak seperti bahasa inggris yang hanya bisa ngoko kepada siapapun. Baik itu kepada ibu, bapak, nenek, sodara, teman, adik, atau kepada siapapun. Budaya egaliter dan tanpa tedeng aling-aling membuat budaya mancanegara lebih tidak punya malu kepada siapapun. Mereka telanjang, bermain seks di tempat umum, konvoi hanya memakai BH dan celana dalam, menggunakan bikini dan aksesoris yang—bukan untuk menutupi—namun lebih sebgai penegasan penelanjangan, dalam budaya mereka itu sudah biasa dan janganlah anda heran dan terkaget-kaget.
Justru anda harus kaget jika terdapat orang yang di besarkan dalam kondisi dan lingkungan budaya rasa malu yang tinggi tiba-tiba menjadi lebih tidak punya malu. Kadar tingkat rasa malunya pun sudah mencapai tahap yang paling akut kalau tidak boleh di bilang bebal. Pertunjukan parade ekshibisionis pacaran di tempat umum, hamil di luar nikah, korupsi penggerogotan nilai dan materi yang seharusnya milik rakyat. Dan berbagai kelakuan yang tidak sepantasnya seperti --masalah keluarga-- dipertontonkan kepada publik, malah sekarang jadi komoditas industri infotainment yang sangat laris dan berbiaya sangat mahal. Seorang koruptor berjalan tegak dengan bangga sambil melambaikan tanganya dan tidak menunjukkan rasa bersalah setelah bebas dari penjara dan– misalnya kembali lagi sebagai dosen atau pekerja pemerintahan lain— masih saja tetap di hormati dan di junjung tinggi.