Senin, 05 Maret 2012

BUDAYA LEBAY, LEBAY YANG MEMBUDAYA


 
Idiom lebay, entah dari muatan psikologis apa asal-usul kata tersebut muncul dan menjadi trending istilah di kalangan anak muda. Segala sesuatu yang di anggap kampungan, ketinggalan jaman, ndeso, norak atau apapun saja akan segera mendapat stempel lebay. Dari mode pakaian, gaya hidup, pemikiran, ungkapan kata, hasil pemikiran, sampai gaya bicara. Anda jangan sampai salah ucap, karena tuduhan keji itu bisa-bisa akan beralamat juga kepada Anda. Dan tulisan ini pun jika di pandang dengan perspektif seperti itu mengandung elemen lebay juga.

Tapi tunggu dulu, lebay itu sebenernya mahluk apa. Dengan kacamata model apa kita memandangnya secara objektif. Sepanjang yang kita ketahui, lebay secara harfiah merupakan plesetan kata dari lebih, meskipun masih bisa di perdebatkan darimana asal-usul kata ini dan faktor apa-apa saja yang melatarbelakangi munculnya kata tersebut. Sedangkan bagi orang yang mempunyai indikasi lebay, dinamakan alay. Lebay menjadi olok-olokan yang secara umum disepakati bersama-sama untuk menunjukkan kenorakannya. Norak karena berbeda dengan kalangan umum.

Yang jadi permasalahannya adalah legitimasi dari siapakah yang bisa mencap seseorang dan tindakannya itu lebay atau tidak.

Minggu, 04 Maret 2012

Bangun Pagi dan Sebuah Kebiasaan


Saya termasuk dari banyak orang yang sulit untuk bangun pagi. Entah kenapa, saya selalu malas bila bangun cepat-cepat di pagi hari. Saya selalu bangun ketika memang sudah mepet waktunya untuk berangkat bekerja. Ketika masih dalam buaian mimpi di atas kasur, meskipun Blackberry sudah di setel alarm yang menurut saya masih pagi (karena jam pagi setiap orang tentu berbeda-beda), selalu timbul rasa enggan untuk dapat beranjak bangun dan mulai aktivitas. Dan seringkali selalu niat untuk bangun pagi selalu kalah dengan hasrat tidur kembali.

Mungkin juga sebuah pembenaran subjektif, kalau saya selalu bangun siang di karenakan hampir setiap malam begadang sampai larut, yang jadinya waktu tidur menjadi terdiskon besar-besaran. Bila standart jam tidur bagi orang dewasa adalah 6-8 Jam, maka dengan kebiasaan “melek malam” itu membuat waktu tidur saya menjadi hanya 3-4 Jam saja.  Waktu tidur yang di rasa kurang dari standart normal itu menyebabkan aktivitas di siang hari menjadi tidak maksimal.

TINJAU ULANG PNPM : SEBUAH TANGGAPAN


Dari sebuah harian nasional, saya membaca sebuah artikel menarik terkait dengan PNPM. Artikel itu ditulis oleh beliau bapak Zainin Ahmadi, anggota DPR RI dari Fraksi PDI-Perjuangan. Dalam artikel tersebut beliau memberikan usulan untuk meninjau ulang kegiatan PNPM. Tinjauan ulang itu berdasarkan 5 alasan yaitu a) penyelenggaraan program menabrak UU Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin (UU-PFM), b) Dana triliunan rupiah PNPM-Mandiri tidak murni dari anggaran pendapatan belanja Negara dan daerah, melainkan dari pinjaman Bank Dunia, c) Program PNPM jauh dari makna pemberdayaan masyarakat, d) Program PNPM-Mandiri tumpang tindih dengan proyek-proyek pembangunan lain karena jelajah PNPM-Mandiri yang tiada batas, e) PNPM sangat politis (Republika, 7 Februari 2012).
Sebagai seorang penggiat serta pelaku pemberdaya masyarakat yang berada di lapangan serta bersentuhan langsung dengan akar rumput, saya merasa harus menyampaikan beberapa tanggapan sekadar sebagai urun rembug, yang motivasinya pasti sama dengan niat baik dari beliaunya bapak anggota dewan  yaitu semata-mata meningkatkan kesejahteraan masyarakat dan tidak ada motivasi yang terselubung. Beliau mungkin merasa gelisah dengan keadaan PNPM, dan ingin agar pembangunan berjalan sesuai mekanisme sehingga aspek manfaat yang diterima masyarakat dapat maksimal.

PNPM lahir dilatarbelakangi dengan adanya persoalan kemiskinan dan pengangguran yang menjadi masalah utama di negeri ini. Kesenjangan pembangunan antar wilayah yang mencolok, ketimpangan pendapatan yang cukup ekstrim serta buruknya kinerja pemerintahan eksekutif dan legislatif memicu masalah sosial yang tinggi di Indonesia. Tidak dapat dipungkiri, 75% total uang negera ini menggumpal di Jakarta dan sisanya di bagi ke seluruh pelosok negeri. Jakarta menjadi menara gading emas yang menarik masyarakat desa untuk datang dan ikut mengadu nasib. Jakarta menawarkan segalanya. Jakarta memberikan mimpi-mimpi indah. Dan  tidak usah kaget jika arus urbanisasi tidak pernah bisa dibendung apalagi di selesaikan pemerintah. Sedangkan bagi daerah-daerah lain di luar Jakarta, apalagi yang lintas pulau dan jauh dari ibukota, sering kita mendengar tentang minimnya infrastruktur dan sarana prasarana yang di bangun. 

Pemberdayaan dan Proses Penyadaran


Kasus fraud yang menghentak program pemberdayaan di rasa menjadi sebuah tamparan keras. Sebuah harian nasional memberitakan bahwa total dana yang di selewengkan mencapai angka sebesar 220 Milyar Rupiah yang terakumulasi dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011. Sebuah angka fantastis untuk ukuran sebuah program pemberdayaan yang di gadang-gadang sebagai program pemberdayaan terbaik dan tersukses di negeri ini. Itu angka dari data yang tercatat, yang di laporkan dan di temukan. Untuk kasus-kasus yang belum di ketahui atau di laporkan masih mungkin angkanya menjadi lebih besar.
Kasus tentang penilapan uang program oleh konsultan, birokrat, pelaku pelaksana dari tingkat desa sampai tingkat atas, uang siluman untuk meloloskan kegiatan proyek, pemotongan oleh oknum yang tidak bertanggungjawab masih mendominasi dan mewarnai perjalanan program. Dan ini hampir secara merata terjadi di setiap lini. Meskipun tidak bisa di bandingkan dengan kasus korupsi raksasa di negeri ini, namun setidaknya ini sudah harus menjadi catatan merah sekaligus warning bagi kita untuk menyelamatkan uang rakyat yang telah diamanatkan untuk pembangunan.
Program pemberdayaan hadir di tengah stigma negative masyarakat akan pembangunannya. Berpuluh tahun masyarakat tidak pernah di ikutkan serta di libatkan dalam proses pembangunan desanya, sehingga lambat laun menggumpal kesadaran bahwa yang memiliki uang adalah Pak Kades, Camat, Bupati hingga Presiden. Rakyat merasa tidak punya hak apa-apa untuk ikut berpartisipasi. Karena toh berpartisipasi saja juga belum tentu ada hasilnya yang nyata, yang dapat di rasakan langsung oleh mereka. Seringkalinya yang mereka dapatkan adalah semacam hadiah, gula-gula permen asam manis pembangunan, yang kadangkala kurang sesuai dengan apa yang mereka butuhkan. Dan hasilnya masih terdapat kegiatan proyek pembangunan yang mangkrak dan tidak dapat digunakan secara optimal.

Buruk Muka Pemberdayaan Jangan Cermin Yang Di Belah


Diskusi panjang dalam sebuah seminar itu, menjadi sangat menarik ketika tem pemberdayaan dinilai dan dilihat dari sudut pandang yang berbeda dari sebelumnya. Ketika dalam kurun waktu yang cukup panjang, nilai pemberdayaan di anggap telah kehilangan ruhnya, maka diskusi ini menjadi ajang layaknya sebuah oase untuk mencari solusi dari kebuntuan-kebuntuan yang selama ini telah berjalan. Para pengembara pemberdayaan itu, bagai kekurangan bekal air minum untuk menempuh jalur padang pasir pemberdayaan yang sangat luas yang tidak di ketahui mana pangkal dan ujungnya.

Umpamanya ketika di lontarkan tema tentang makna pemberdayaan dan seberapa jauh nilai pemberdayaan itu merasuk dan menjiwai dalam dari seorang pemberdaya. Semuanya sepakat bahwa masyarakat harus mendapatkan hak-haknya dasarnya, harus diperjuangkan aspirasi politiknya, di kuatkan mekanisme control dan bargaining powernya. Semuanya menyetujui bahwa terdapat ketidakberesan dalam stuktur tatanan birokrasi serta regulasi formal Negara ini. Dan pemberdayaan dianggap sebagai problem solvingnya dari masalah kemiskinan di Negara yang kaya raya ini. Karena memang telah terbukti, bahwa sistem diktator dan otoriterisme dari sistem yang sentralistik telah sukses membawa bangsa ini dalam kebangkrutan.

Dan alangkah sangat mulianya ketika idealisme dan keberpihakan kepada masyarakat yang kurang beruntung itu dapat di terjemahkan dan di implementasikan dalam sebuah kerangka system yang lebih baik. Yang dalam pelaksanaannya di serahkan kepada demokrasi. Yang dalam arti segala bentuk keputusan di kembalikan kepada masyarakat. Meskipun terpaksanya kita kembalikan juga pertanyaanya apakah demokrasi selama ini yang kita jalani sudah merepresentasikan aspirasi politik masyarakat, ataukah sudah di belokan oleh tangan-tangan kekuasaan yang mempunyai kepentingan dan menunggangi dari kebodohan serta ketidaktahuan masyarakatnya. Pelaku pemberdayaan di tantang, apakah mampu untuk menghasilkan goal sesuai dengan cita-cita bersama itu. Dan karena memang hakikatnya secara yuridis kita telah di tunjuk, di bentuk dengan sistem demokratis masyarakat yang berbias, maka seringkali kita terjebak dan menyadari dengan angkuhnya bahwa kita merupakan orang-orang pilihan yang di tugaskan untuk mengentaskan kemiskinan sehingga lupa dan tidak menyadari esensi pemberdayaan masyarakat namun sudah di persempit dengan pemberdayaan diri kita sendiri.

Ketidakberdayaan Sang Pemberdaya



S
ecara sederhana, bila kita mengacu kata pemberdayaan (empowering) selama ini adalah sebuah proses untuk menguatkan serta mendayagunakan agar apa yang sebelumnya tidak berdaya menjadi berdaya. Berdaya dapat bersifat individual maupun juga bersifat tatanan sosial kemasyarakatan. Dapat pula disebut sebagai kemandirian, membangun potensi yang dimilikinya, mengidentifikasi masalah serta sanggup menemukan problem solving-nya sendiri yang mungkin berasal dari dalam diri maupun yang ada di luar diri. Kalau meminjam kata Bung Karno adalah “Berdikari”. Suatu manifesto yang berarti “berdiri di kaki sendiri”. Yaitu suatu kesanggupan dan juga etos untuk dapat menggerakkan, membangkitkan semangat juang untuk maju secara kolektif dan “gagah” dalam menghadapi masalah. Masalah bisa macam-macam, bisa masalah pribadi ataupun masalah sosial yang peta persoalannya mungkin juga adalah kombinasi dari keduanya.  Bisa datang dari internal masyarakat namun juga ada yang dari faktor-faktor eksternal di luar masyarakat.

Term pemberdayaan, menjadi populer ketika dalam sebuah survei dan penelitian ilmiah yang di dasarkan pada Human Development Index (HDI) menampilkan bahwa index manusia Indonesia rata-rata masih tergolong menengah di antara negara-negara lain di dunia. Masih jauh di bawah negara-negara maju di eropa dan Amerika. Namun sedikit lebih baik di atas negara-negara Afrika yang hanya memilki lautan gurun pasir saja. Bandingkan dengan Indonesia, yang memiliki sumber daya yang melimpah ruah namun masih saja miskin. Bahkan masih kalah dengan negara serumpun Malaysia dan ironisnya kalah juga dengan negara “kecamatan" Singapura. 

Dari itulah, di tarik benang merah penyebab masalahnya. Dan salah satu yang menjadi faktor (katanya) adalah ketidakberdayaan masyarakat Indonesia yang mencakup ketidakberdayaan ekonomi, sosial dan politik. 30 Tahun di bawah rezim yang represif, membuat masyarakat Indonesia, gagal dalam menghadapi arus modernisasi yang datang menyerbu bagai air bah bergulung-gulung. Rakyat Indonesia, tidak benar-benar bisa memahami, mengetahui keunggulan sumber daya lokal maupun potensi yang luar biasa ini. Untuk itulah maka, diperlukan pendobrak kejumudan cara berpikir masyarakat untuk membawa masyarakat indonesia menjadi kondisi masyarakat yang berdaya. 

Rabu, 25 Agustus 2010

Disinformasi Nilai dan Copy Paste

oleh N. Gilang Prayoga
pada 13 Juni 2010 jam 20:39
Beberapa minggu terakhir ini, kalangan masyarakat pecinta infotainment di gegerkan dengan adegan mesum “mirip artis”. Dalam waktu yang singkat dan tidak lebih dari satu minggu, dua video berdurasi 6 menit dan 8 menit sudah menyebar di forum-forum internet dan dapat didownload siapa saja. Berbagai majalah, koran, televisi, berita online di internet sungguh tak habis-habis menganalisa, mengidentifikasi, memberikan komentar, bahkan banyak juga yang menghujat. Trafik pengguna internet meningkat drastis, rating infotainment melonjak sangat tinggi. Mereka sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang idola anak muda itu. Mereka berdebat, mereka terjebak di antara kebingungan informasi, percaya atau tidak percaya. Percaya karena dalam video pemainnya sangat mirip dan tingkat kemiripannya sudah mencapai 99&. Tapi di sisi lain banyak penggemar menjerit histeris dan tidak percaya kalau idola mereka yang mereka junjung-junjung tinggi sampai melakukan hal seperti itu. Tapi diam-diam mereka juga menikmati dan tidak sabar menunggu sekuel lanjutan dari petualangan cinta sang Don Juan mirip Nazril Ilham alias Ariel Peterpan yang konon katanya mencapai 32 buah dan mirip artis semua. Anda saya sarankan untuk tidak terlalu menuduh sebelum dapat dipastikan kebenarannya, kata seorang yang ahli yang mirip Pakar Telematika dengan sangat bijaksana.

Konon, orang Indonesia itu cenderung suka menuduh tanpa bukti, dan sangat percaya terhadap apa saja yang mereka dengar dan mereka lihat. Berbagai pertengkaran yang tiada habisnya baik dari kalangan elite pusat sampai urusan rumah tangga kadang bermula dari hal tuduh menuduh seperti itu. Kita punya tetangga yang bekerja biasa-biasa saja dan tidak memerlukan waktu yang lama ekonomi keluarga dan kekayaannya menjadi berlipat lipat. Bisa membeli perabotan, membangun rumah yang rumah kita sendiri sangat jauh ketinggalan, punya kendaraan yang kita tidak punyai. Karena kosmos kita adalah tidak percaya, maka kita hembuskan ke masyarakat dan tetangga yang lain bahwa si Anu memelihara tuyul, gendruwo, jin atau punya pesugihan di Gunung Kawi, Gunung Kemukus. Tetangga sekitar percaya dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Maka berbondong-bondonglah mereka membakar rumah sang tersangka pemelihara tuyul tersebut.
Lain lagi dengan cerita seorang pencopet yang salah sasaran. Gerombolan orang berlarian mengejar copet pasar yang mengambil tas seorang ibu. Sang copet menggunakan baju merah dan menggunakan jins. Kejar-kejaran pun terjadi. Sang copet ternyata sangat gesit berlari (mungkin dia sudah berlatih ilmu berlari tingkat tinggi, yang secara alamiah harus dia kuasai untuk melarikan diri ). Di tikungan gang depan, sang copet berkelabat masuk mengubah arah secara berputar untuk mengelabui para pengejarnya. Para pemburu copet pun merasa kehilangan jejak (demikianlah kisah ini mengambil plotnya sendiri). Saat itu munculah, seorang dengan baju yang sama merah dengan menenteng tas plastik, hasil belanjaan di pasar. Karena mereka lihat orang itu mirip copet, tanpa ba bi bu, di kejarnya orang tersebut dan dipukulinya tanpa ampun sampai babak belur. Sampai datanglah ibu yang kecopetan tadi dan memastikan orangnya yang digebuki itu. Dan ternyata ibu yang kecopetan menyatakan bahwa orang itu bukan pencopet, namun hanya mirip dengan pencopet karena baju yang mereka kenakan mirip. Tapi sudah terlambat karena orang yang mirip copet itu sudah hancur babak belur.
Cerita-cerita di atas bukan karangan fiksi atau rekayasa. Tapi memang sungguh terjadi dan bahkan menjadi santapan gosip kita sehari-hari. Konon katanya menjadi tema yang sangat asik yang diperdebatkan ibu ibu kumpulan RT, bapak-bapak di gardu poskamling, anak-anak muda di pertigaan warung dan siapapun. Masyarakat Indonesia tidak mempunyai wawasan untuk melihat sebuah tema dan masalah dari sudut pandang ilmiah, sangka baik, atau riset dengan seksama sebelum mengeluarkan statement. Budaya superfisial sangat menonjol dan dijadikah ukuran penilaian seseorang, lembaga, kegiatan, atau apapun.
Namun seringkali, masyarakat juga tidak bisa disalahkan karena menjadi sangat terlalu percaya dan menuduh tanpa bukti. Tercermin dari kasus Ariel, Luna dan Cut Tari ini, tertuduh tidak segera mengkonfirmasi kepada khalayak publik, apakah benar atau tidak benar. Jika mereka sudah mengkonfirmasi dan membuktikan dengen analisis fakta, data bahwa itu hanya mirip dan bukan mereka. Masalah ini akan selesai dan tidak berlarut-larut. Tapi entah dengan dasar dan alasan yuridis yang bagaimana, mereka tidak segera mengkonfirmasi dan bahkan ditinggal kabur. Semoga saja nasib Ariel tidak seperti kisah pencopet dan pemelihara pesugihan itu dan di tawur oleh seluruh masyarakat Indonesia.

****